|
|
|---|
Selasa, 07 Desember 2010
kerikil dari Gunung anak Krakatau bersuhu 1.000 derajat Celsius
Diposting oleh Perfect Blog di 18.58
Setelah sempat beberapa hari asap Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Serang, Provinsi Banten berwarna putih, Jumat (2/12) kembali berubah berwarna hitam dan kelabu. Selain itu, keluar kerikil bersuhu 1.000 derajat Celcius.
"Asap Krakatau warnanya sama seperti semula, hitam kelabu, setelah sebelumnya sempat berwarna putih," kata kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Pasauran Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Anton S Pambudi, Jumat.
Dia menjelaskan, warna hitam yang terjadi terhadap GAK merupakan fenomena biasa. "Kami masih menetapkan status GAK 'waspada' atau level II," ujarnya.
Pada status itu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih melarang masyarakat atau turis untuk mendekat pada radius dua kilometer. "Kami masih melarang siapapun untuk mendekat pada radius dua kilometer, karena jika masuk diwilayah itu maka keselamatannya tidak terjamin, akibat terkena semburan material yang keluar dari perut GAK," katanya menambahkan.
Selain debu yang bersuhu di atas 600 derajat Celsius, juga batu serta kerikil bersuhu mencapai 1.000 derajat Celsius. "Kalau untuk ukuran batu yang keluar dari perut GAK bisa sebesar sepak bola, sementara itu untuk kerikil seperti kacang, dan jika terkena tubuh maka akan tembus dan bolong," katanya menjelaskan.
Diketahui, sejak tanggal 28 Oktober 2010, status GAK naik dari 'aktif normal' atau level I menjadi 'waspada'. Kegempaan yang terjadi masih fluktuatif, dan jika dirata-ratakan jumlahnya 600 sampai 700 kali.
Seismograf Rusak, Ini Bukan yang Pertama
Tidak berfungsinya alat pemantau di Gunung Anak Krakatau (GAK) bukanlah yang pertama kali. Di GAK sebetulnya terdapat setidaknya dua set alat pemantau atau seismograf.
Namun, alat pemantau lainnya yang merupakan hibah program dari Jerman juga ikut rusak akibat hantaman material GAK saat terjadi letusan tahun 2008 lalu.
Berdasarkan pantauan Kompas beberapa waktu lalu, fasilitas yang berada di punggung GAK ini terlihat luluh lantak. Panel-panel surya hancur berkeping-keping, bahkan pagar besi yang mengelilingi fasilitas ini juga penyok akibat hantaman material letusan.
Akibat rusaknya alat milik Jerman ini, pos pemantau di Gubuk Seng di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, juga tidak bisa maksimal berfungsi. Padahal, lokasi pos pemantau ini adalah yang terdekat dibandingkan dua yang lainnya, yaitu di Rajabasa, Lamsel, dan Anyer, Banten.
Akibat rusaknya seismograf, selama sepekan terakhir ini, aktivitas geologis di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, tidak bisa terpantau.
"Asap Krakatau warnanya sama seperti semula, hitam kelabu, setelah sebelumnya sempat berwarna putih," kata kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Pasauran Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Anton S Pambudi, Jumat.
Dia menjelaskan, warna hitam yang terjadi terhadap GAK merupakan fenomena biasa. "Kami masih menetapkan status GAK 'waspada' atau level II," ujarnya.
Pada status itu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih melarang masyarakat atau turis untuk mendekat pada radius dua kilometer. "Kami masih melarang siapapun untuk mendekat pada radius dua kilometer, karena jika masuk diwilayah itu maka keselamatannya tidak terjamin, akibat terkena semburan material yang keluar dari perut GAK," katanya menambahkan.
Selain debu yang bersuhu di atas 600 derajat Celsius, juga batu serta kerikil bersuhu mencapai 1.000 derajat Celsius. "Kalau untuk ukuran batu yang keluar dari perut GAK bisa sebesar sepak bola, sementara itu untuk kerikil seperti kacang, dan jika terkena tubuh maka akan tembus dan bolong," katanya menjelaskan.
Diketahui, sejak tanggal 28 Oktober 2010, status GAK naik dari 'aktif normal' atau level I menjadi 'waspada'. Kegempaan yang terjadi masih fluktuatif, dan jika dirata-ratakan jumlahnya 600 sampai 700 kali.
Seismograf Rusak, Ini Bukan yang Pertama
Tidak berfungsinya alat pemantau di Gunung Anak Krakatau (GAK) bukanlah yang pertama kali. Di GAK sebetulnya terdapat setidaknya dua set alat pemantau atau seismograf.
Namun, alat pemantau lainnya yang merupakan hibah program dari Jerman juga ikut rusak akibat hantaman material GAK saat terjadi letusan tahun 2008 lalu.
Berdasarkan pantauan Kompas beberapa waktu lalu, fasilitas yang berada di punggung GAK ini terlihat luluh lantak. Panel-panel surya hancur berkeping-keping, bahkan pagar besi yang mengelilingi fasilitas ini juga penyok akibat hantaman material letusan.
Akibat rusaknya alat milik Jerman ini, pos pemantau di Gubuk Seng di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, juga tidak bisa maksimal berfungsi. Padahal, lokasi pos pemantau ini adalah yang terdekat dibandingkan dua yang lainnya, yaitu di Rajabasa, Lamsel, dan Anyer, Banten.
Akibat rusaknya seismograf, selama sepekan terakhir ini, aktivitas geologis di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, tidak bisa terpantau.
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)

























0 komentar:
Posting Komentar